Aku menuju dapur, lalu
makan bersama Kak Tina. Ini bacaan orang besar”. Bokeb Pahanya, yang walaupun sedikit gelap namun mulus itu
terpampang jelas di mataku. Ingat
kalau aku ingin pipis, maka aku dengan perlahan mengangkat tangan Kak
Tina dan menarik tanganku. Aku menikmati saja. Aku ketagihan. Tanpa sadar tanganku menggosok bagian kelaminku. Malu. Suatu rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Tapi aku cukup puas. Dapat kurasakan kehangatan dada
perawannya. Suatu rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. “Mimpi basah?”. “Berdiri sebentar, Sapto”. Degh! Bu Rochim pulang. Hanya itu saja. Hanya saja, rasanya
lengket. Mengeluarkan sapi dan menambatkannya di kebun
belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi. Tinggallah aku
sendiri. Saat
kudengar langkah Kak Tina, segera kuletakkan di tempatnya.




















