Nafasku mulai memburu. Bokeb Tak lama kemudian bu Bambang muncul dan duduk di sebelahku. Kemudian wanita itu memandangiku dan sesaat kemudian terlihat senyuman tersungging di bibirnya. “Heh, liatin apa!” hardik bu Bambang yang mengagetkanku. Mulutnya mendasis dan meracau seperti orang kepedesan. Akhirnya ku pertimbangkan ide untuk tidur di rumah bu Bambang walaupun sebenarnya aku malu. Tidak langsing sih tapi juga tidak gemuk. “Mimpi basah??” gumamku. “Ta tinggal ke dapur ya” ujar bu Bambang sambil berlalu. Lalu bu Bambang menghampiriku dan mengulurkan tangannya seakan menyuruhku untuk berdiri. “Nah gitu dong..itu namanya dah gede! Bentiknya juga indah sekali seperti lipatan-lipatan daging. Dengan sigap ia melepas daster yang dikenakannya. Tadi kamu malah curi-curi ngesun, sekarang dikasih malah ga mau?!” ujarnya lagi.




















